Review Film Telur Setengah Matang: Labirin Sesal Tak Berujung

JAKARTA – Metafora tersebut nampaknya lengkap untuk menggambarkan film pendek Half Boiled Eggs yang dihadirkan Larasati Creative Lab melalui platform streaming Viddsee Indonesia.

Telur setengah matang digoreng dalam wajan tua yang kering. Diperbolehkan berlama-lama di satu sisi. Sehingga ketika ada orang di belakangnya yang terdengar seperti pria dewasa, bagian sampingnya yang dijilat api besar hampir terbakar. Review Film Telur Setengah Matang: Labirin Sesal Tak Berujung

Adegan ini seolah mempertegas apa yang ditampilkan pada adegan pembuka. Inilah pintu masuk perjalanan cerita yang dramatis dan dilematis, seolah terjebak dalam labirin penyesalan di dunia kehidupan yang tak terbatas.

Sepasang remaja, laki-laki dan perempuan, sedang duduk mengenakan seragam sekolah. Duduk gelisah di bangku papan panjang tanpa punggung. Masing-masing tangan mereka seolah tak punya arah selain meremas tanpa tujuan.

Mereka berada di samping kantong plastik transparan yang menunjukkan isinya. Di sana Anda dapat melihat potongan nanas pucat, yang memberi tahu kita sesuatu. Beberapa tidak sah. Termasuk Ammar Zoni, 5 Artis Ini Diciduk Gara-Gara Kasus Narkoba Usai Ngobrol Bareng Deddy Corbuzier

Ini adalah Tengkes yang darurat dan rentan. Perbincangan di Komite Kesembilan DPR RI tentang fenomena tersebut disiarkan di website dpr.go.id. Bisa dilihat dengan judul Kurniash: Kasus Ibu Hamil di Luar Nikah Darurat 02.02.2023.

Dalam keterangannya, Wakil Ketua Komite IX DPR RI Korniash Mofidiati mengungkapkan keprihatinannya.Korniash memanfaatkan kesempatan itu untuk membeberkan laporan Institute of Good Mention. Tercatat, antara tahun 2015 hingga 2019, jumlah kehamilan yang tidak diinginkan di Indonesia mencapai 40% dari total jumlah kehamilan.

“Hal ini menjadi kekhawatiran kita semua, dimana angka perceraian akibat kehamilan di luar nikah sangat tinggi,” kata Korniash. Ia khawatir akan banyak korban jiwa dalam aksi tersebut.

Foto: Viddsee Indonesia

Bagi Kornea, sebagian besar masalah kehamilan yang tidak diinginkan bisa berakhir dengan keguguran. Sebab jika pilihan terus berlanjut ke arah pernikahan, banyak ketidaksiapan yang menanti.

Situasinya sulit untuk dijalani. Kehamilan pada pasangan yang belum siap menikah dan hamil dapat menyebabkan memburuknya kondisi anak. Selain itu, ketidaksiapan mental pasangan akan memicu konflik rumah tangga hingga berujung pada perceraian.

Angka terbaru disampaikan kepada media massa pada Juli lalu oleh Pleia Lestjawati, Kepala Bidang Peningkatan Kualitas Keluarga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Bandung. Peli mengungkapkan, data permohonan nikah anak di Kementerian Agama Kota Bandung pada tahun 2023 mencapai 76 permohonan.

Peli melanjutkan, dari 76 permohonan, hanya 10 yang ditolak. Karena yang lain sudah hamil. Hampir 90% diantaranya disebabkan oleh kehamilan di luar nikah.

“Jika mengacu pada data Kementerian Agama Kota Bandung, angka pernikahan anak masih sangat rendah dibandingkan daerah lain di Jabar,” ujarnya. Pada tahun 2022 terdapat 143 pernikahan anak di Kota Bandung.

Pernikahan bukanlah suatu pilihan, pernikahan bukanlah pilihan terbaik. Menurut para ahli, menikahkan pasangan hamil di luar nikah bukanlah solusi mengatasi anak hamil di luar nikah. Review Film Telur Setengah Matang: Labirin Sesal Tak Berujung

“Apa pun alasannya, seks pranikah tetaplah salah. Namun, orang tua tidak boleh langsung menyalahkan dan menuding anaknya. Apalagi jika ternyata anak tersebut adalah korban pemerkosaan,” jelas psikolog Anna Sorti Ariani kepada giuseppezanotti. .

Anna menasihati para orang tua untuk bersantai terlebih dahulu. Dalam situasi seperti itu, orang tua harus memahami bahwa tidak hanya mereka yang terkejut, tetapi juga anak mereka.

“Anak perlu keberanian ekstra untuk mengakui hal ini kepada orang tuanya. Oleh karena itu, ketika anak berani mengaku dan langsung ditegur, maka ia akan mengalami depresi. Orang tua harus menjaga kondisi psikologis anak,” imbuhnya.

Pernikahan di luar nikah antara dua remaja bukanlah satu-satunya solusi untuk menghindari rasa malu. Jika mereka berdua menikah dan mengetahui bahwa mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka, ini mungkin tidak menjadi masalah.

You May Also Like

About the Author: Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *